Jaguarinfo.id, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai inflasi Januari 2026 yang menunjukkan tren positif bagi daya beli masyarakat. Pada awal tahun ini, Indeks Harga Konsumen mengalami deflasi sebesar 0,15% secara bulanan (mtm) karena harga pangan yang mulai stabil. Penurunan harga ini terjadi di tengah pengendalian harga pemerintah yang sangat konsisten pada berbagai sektor strategis nasional.
Kelompok pangan bergejolak atau volatile food menjadi penyumbang terbesar terhadap angka deflasi pada bulan pertama tahun ini. Harga komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah merosot cukup tajam karena pasokan hasil panen mulai melimpah ke pasar. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah terbukti efektif dalam menjaga distribusi barang pokok tetap lancar di seluruh wilayah Indonesia.
Selain faktor pangan, kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) juga mencatatkan deflasi sebesar 0,32% secara bulanan. Penurunan harga BBM nonsubsidi menjadi pemicu utama berkurangnya beban biaya transportasi masyarakat pasca libur panjang. Kondisi ini diikuti oleh normalisasi tarif angkutan udara serta bus antarkota setelah masa perayaan Natal dan Tahun Baru berakhir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Prediksi Ekonomi dan Target Bank Indonesia
Secara tahunan, angka inflasi Januari 2026 berada pada level 3,55% atau sedikit meningkat karena pengaruh basis rendah pada tahun sebelumnya. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa otoritas moneter tetap optimistis terhadap stabilitas ekonomi ke depan. Melalui keterangan tertulisnya, ia menyatakan bahwa konsistensi kebijakan akan menjaga laju harga tetap berada pada sasaran 2,5±1% sepanjang tahun ini.
Denny menekankan bahwa penguatan Program Ketahanan Pangan Nasional menjadi kunci utama untuk meredam lonjakan harga yang tidak terduga. Kerja sama erat antara Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Daerah (TPID) akan terus berlanjut guna memastikan target tersebut tercapai. Bank Indonesia meyakini koordinasi kebijakan ini mampu menciptakan iklim investasi dan konsumsi yang sehat bagi seluruh lapisan masyarakat.
















