Jaguarinfo.id, Manado – Kabar gembira datang dari sektor pertanian di Bumi Nyiur Melambai pada awal tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Nilai Tukar Petani Sulawesi Utara pada Januari 2026 meningkat sebesar 2,14 persen.
Angka tersebut kini menyentuh level 127,89, melonjak cukup signifikan dari posisi Desember 2025 yang berada di angka 125,21. Kenaikan ini menunjukkan bahwa kesejahteraan petani Sulut kian membaik berkat selisih harga jual yang menguntungkan.
Pihak BPS Sulawesi Utara menyampaikan data tersebut dalam siaran pers di Manado, Senin (2/2).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kenaikan indeks terjadi karena harga yang petani terima jauh lebih tinggi daripada harga yang harus mereka bayar. Indeks harga yang petani terima (It) naik sebesar 2,32 persen. Sementara itu, indeks harga yang petani bayar (Ib) untuk kebutuhan produksi dan konsumsi hanya naik tipis sebesar 0,17 persen.
Pertumbuhan positif pada Nilai Tukar Petani Sulawesi Utara ini terutama mendapat dorongan kuat dari tiga subsektor utama. Subsektor Hortikultura mencatat kenaikan paling fantastis, yakni sebesar 18,37 persen. Selain itu, subsektor Tanaman Pangan dan Perikanan juga turut menyumbang tren positif masing-masing sebesar 1,47 persen dan 1,25 persen. Lonjakan ini memberikan nafas segar bagi para produsen di daerah pedesaan.
Namun, tidak semua kelompok tani merasakan tren kenaikan serupa pada bulan ini. Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat justru mengalami kontraksi sebesar 1,70 persen. Demikian pula dengan subsektor Peternakan yang sedikit terkoreksi sebesar 1,30 persen. Meskipun ada penurunan di beberapa lini, secara umum kondisi ekonomi perdesaan di Sulawesi Utara masih berada di jalur pertumbuhan yang sangat stabil.
Performa Unggul NTP Sulawesi Utara di Kawasan Sulawesi
Jika kita melihat peta regional, capaian Sulawesi Utara tergolong sangat impresif. Dari enam provinsi yang ada di Pulau Sulawesi, tercatat hanya Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara yang mampu membukukan kenaikan indeks. Menariknya, Sulawesi Utara mencatatkan persentase kenaikan tertinggi di seluruh wilayah tersebut. Hal ini mempertegas posisi Sulut sebagai pemimpin pertumbuhan sektor pertanian di kawasan tersebut sepanjang bulan Januari.
Selain urusan produksi, BPS juga menyoroti Indeks Konsumsi Rumah Tangga yang mengalami inflasi ringan sebesar 0,08 persen. Menariknya, pengeluaran untuk Makanan, Minuman, dan Tembakau justru turun sebesar 0,05 persen. Penurunan harga bahan pokok ini tentu sangat membantu daya beli masyarakat tani di tengah kenaikan biaya rekreasi dan olahraga. Dengan demikian, sirkulasi ekonomi petani di Sulawesi Utara tetap terjaga dengan sangat baik.
















