Jaguarinfo.id, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2025 menyentuh angka 2,51 miliar dolar AS. Capaian ini memperkuat kinerja ekspor nonmigas nasional sekaligus menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di penghujung tahun. Meskipun angka tersebut sedikit melandai dari November 2025 sebesar 2,66 miliar dolar AS, tren positif ini tetap menjadi modal kuat bagi perekonomian.
Sektor nonmigas menjadi motor utama yang menggerakkan surplus pada periode ini. Data menunjukkan neraca perdagangan nonmigas mencatatkan angka positif sebesar 4,61 miliar dolar AS. Kenaikan tersebut terjadi seiring dengan nilai ekspor nonmigas yang menembus 25,09 miliar dolar AS. Komoditas sumber daya alam tetap mendominasi pasar internasional.
Ekspor lemak dan minyak hewani atau nabati serta bahan bakar mineral menjadi kontributor terbesar. Selain itu, produk manufaktur seperti besi, baja, dan berbagai produk kimia menunjukkan performa yang solid. Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi negara tujuan utama pengiriman produk-produk unggulan asal tanah air.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bank Indonesia menilai catatan positif ini sangat penting untuk memperkuat daya tahan ekonomi dari tekanan global. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, memberikan tanggapan resminya terkait perkembangan data terbaru ini. Beliau menegaskan bahwa hasil tersebut merupakan sinyal baik bagi kondisi makroekonomi dalam negeri.
”Bank Indonesia memandang surplus neraca perdagangan ini positif untuk menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia lebih lanjut,” ujar Ramdan Denny Prakoso melalui keterangan tertulisnya. Ia juga menambahkan bahwa sinergi kebijakan dengan Pemerintah akan terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Tantangan Defisit pada Sektor Migas
Meskipun surplus neraca perdagangan Indonesia terjaga, sektor migas masih mengalami tantangan berupa defisit yang melebar. Pada Desember 2025, defisit migas naik menjadi 2,09 miliar dolar AS. Kondisi ini terjadi karena laju impor migas tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan kemampuan ekspor pada sektor yang sama.
Pemerintah dan otoritas terkait kini fokus untuk memitigasi dampak defisit migas tersebut. Langkah strategis dilakukan agar ketahanan eksternal ekonomi tetap tangguh menghadapi fluktuasi harga energi dunia. Fokus utama tetap pada penguatan sektor-sektor produktif agar surplus tetap konsisten pada masa mendatang.
















