Jaguarinfo.id, Bitung – Penggunaan instrumen transaksi QRIS Kota Bitung menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa sepanjang tahun 2025. Masyarakat kini semakin gemar menggunakan pembayaran digital tersebut untuk berbagai keperluan belanja harian mereka. Data terbaru membuktikan bahwa pola konsumsi mulai beralih dari uang tunai ke metode pembayaran non-tunai.
Pertumbuhan ini terungkap dalam forum High Level Meeting (HLM) Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Kota Bitung bersama Bank Indonesia (BI) pada 7 Februari 2026. Berdasarkan catatan resmi, volume penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard ini naik hampir dua kali lipat dalam satu tahun terakhir.
BI Sulut mencatat transaksi QRIS Kota Bitung mencapai 2,39 juta kali dengan total nilai Rp272,95 miliar selama tahun 2025. Angka ini melonjak drastis jika kita membandingkannya dengan performa tahun 2024. Saat itu, jumlah transaksi hanya menyentuh angka 1,24 juta dengan nilai sebesar Rp145,15 miliar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kenaikan tersebut menjadi indikator kuat bahwa ekosistem keuangan digital di Bitung berkembang sangat pesat. Bank Indonesia menilai masyarakat dan pelaku usaha kini semakin terbuka menerima inovasi teknologi finansial. Oleh karena itu, efisiensi ekonomi di wilayah ini terus mengalami perbaikan yang cukup konsisten.
Pihak Bank Indonesia menekankan bahwa tren positif ini muncul karena adanya sinergi pada berbagai kegiatan daerah berskala besar. “Peningkatan tersebut mencerminkan semakin luasnya penerimaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap pembayaran non-tunai,” Kata Kepala BI Joko Supratikto.
Selanjutnya, momentum ini menjadi peluang strategis untuk mendorong digitalisasi pada sektor lain. Pemerintah kota berencana mengintegrasikan sistem ini ke dalam pembayaran pajak dan retribusi daerah. Langkah tersebut bertujuan agar pengelolaan keuangan daerah menjadi lebih transparan dan juga akuntabel pada masa mendatang.
















