Jaguarinfo.id, Jakarta – Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia menunjukkan tren positif dengan mencatatkan penurunan pada November 2025. Data terbaru Bank Indonesia (BI) menunjukkan ULN Indonesia berada di angka 423,8 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan posisi Oktober 2025 yang mencapai 424,9 miliar dolar AS.
Penurunan ini didorong oleh melambatnya pertumbuhan utang di sektor publik serta penurunan tipis pada sektor swasta. Secara tahunan, ULN Indonesia hanya tumbuh 0,2% (yoy), melambat signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 0,5% (yoy).
Posisi ULN pemerintah pada November 2025 tercatat sebesar 209,8 miliar dolar AS. Penurunan ini dipengaruhi oleh dinamika kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) akibat ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun turun, pemerintah memastikan bahwa penarikan utang dilakukan secara terukur untuk membiayai sektor-sektor prioritas, di antaranya:
- Jasa Kesehatan & Kegiatan Sosial: 22,2%
- Administrasi Pemerintah & Pertahanan: 19,7%
- Jasa Pendidikan: 16,4%
- Konstruksi: 11,7%
- Transportasi & Pergudangan: 8,6%
Menariknya, struktur utang pemerintah sangat aman karena 99,99% merupakan utang jangka panjang, sehingga risiko gagal bayar dalam waktu dekat sangat terkendali.
Kondisi serupa terjadi pada ULN swasta yang tercatat sebesar 191,2 miliar dolar AS, turun dari 191,7 miliar dolar AS pada Oktober 2025. Penurunan ini dipengaruhi oleh kontraksi pada utang perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations).
Sektor industri pengolahan, jasa keuangan, pengadaan listrik/gas, serta pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar dengan total pangsa mencapai 80,5% dari seluruh utang swasta.
Bank Indonesia menegaskan bahwa struktur ULN Indonesia tetap berada dalam kondisi sehat. Hal ini dibuktikan dengan rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,3%. Selain itu, total ULN Indonesia secara keseluruhan masih didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa 86,1%.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa pemerintah dan Bank Indonesia berkomitmen penuh dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui pengelolaan utang yang hati-hati.
“Sebagai salah satu instrumen pembiayaan APBN, ULN tetap dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel. Pemanfaatannya terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas guna menjaga keberlanjutan fiskal serta memperkuat perekonomian nasional,” Tulis Ramdan Denny Prakoso dalam keterengan resminya.
Ia juga menambahkan bahwa Bank Indonesia dan Pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan utang untuk meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi di tengah dinamika global.
Masyarakat dapat mengakses data lengkap pada publikasi Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi Januari 2026 di situs resmi Bank Indonesia atau Kementerian Keuangan.
















