Jaguarinfo.id, Manado – Kondisi ekonomi global dan nasional yang masih dalam tahap pemulihan tidak menyurutkan optimisme terhadap performa ekonomi Sulawesi Utara (Sulut). Memasuki tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Bumi Nyiur Melambai diproyeksikan bakal tetap kokoh, melanjutkan tren positif yang telah dibangun sepanjang tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, pertumbuhan ekonomi daerah hingga triwulan III-2025 telah menyentuh angka 5,5 persen. Dalam keterangan BPS menyebutkan bahwa industri pengolahan menjadi mesin utama penggerak Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan kontribusi mencapai 1,25 persen.
Menanggapi capaian tersebut, Regional Business Support Department Head BNI Wilayah 11 Area kerja yang melingkupi 4 Provinsi yakni Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulteng, & Malut Henky Caroles SE, AK, menyatakan pandangan optimisnya terhadap ketahanan ekonomi Sulut di tahun 2026. Menurutnya, struktur ekonomi yang ada saat ini menunjukkan kemandirian yang semakin kuat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
”Saya melihat ada sinyal positif yang konsisten. Meskipun tantangan global masih membayangi, Sulawesi Utara memiliki fondasi yang cukup resilien. Kita tidak hanya bergantung pada konsumsi rumah tangga, tetapi sudah mulai bergeser ke arah penguatan nilai tambah melalui sektor industri,” ujar Henky.
Pengamat Ekonomi ini menekankan bahwa terjaganya angka pertumbuhan di kisaran 5 persen hingga akhir 2025 merupakan modal besar untuk menatap tahun 2026. Ia meyakini bahwa diversifikasi ekonomi akan menjadi benteng pertahanan utama daerah.
Lebih lanjut, Praktisi Perbankan ini menjelaskan bahwa untuk menjaga momentum pertumbuhan ini, pemerintah daerah dan pelaku usaha perlu fokus pada keberlanjutan sektor-sektor strategis.
”Saya sangat optimis tahun 2026 performa kita tetap terjaga. Kuncinya adalah konsistensi pada program hilirisasi komoditas unggulan. Industri pengolahan yang menjadi kontributor terbesar PDRB harus terus didorong agar mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya saing ekspor kita di pasar internasional,” jelasnya.
Henky juga menambahkan bahwa sektor pariwisata dan peningkatan investasi infrastruktur yang terintegrasi akan menjadi katalisator tambahan yang memperkuat ekonomi Sulut dari guncangan eksternal.
”Dengan sinergi antara kebijakan fiskal daerah yang tepat sasaran dan iklim investasi yang kondusif, Sulut berpotensi besar menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi di kawasan Indonesia Timur pada 2026,” pungkasnya.
















