Jaguarinfo.id, Manado – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara terus memperkuat sinergi untuk menekan gejolak inflasi di daerah. Melalui berbagai program strategis, BI fokus membenahi rantai pasok dan memperkuat sektor riil guna memastikan keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Kepala Kantor Perwakilan BI Sulawesi Utara, Joko Supratikto dalam Dialog Khusus bersama RRI Manado 26/01/26, menjelaskan bahwa tantangan utama di wilayah ini adalah hambatan distribusi.
Contohnya Manado, bukanlah penghasil cabai rawit sehingga sangat bergantung pada pasokan dari Minahasa dan wilayah sekitarnya. Untuk mengatasi ketimpangan ini, BI memfasilitasi Kerjasama Antar Daerah (KAD) guna mengalirkan stok dari daerah surplus ke daerah defisit.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain distribusi, BI aktif berkolaborasi dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Melalui High Level Meeting, mereka rutin menyelenggarakan pasar murah untuk memotong rantai pasok yang terlalu panjang. Langkah ini memungkinkan komoditas dari petani langsung menjangkau pasar sehingga harga tetap wajar bagi konsumen.
Strategi PATUA dan Penguatan Sektor Riil
Program unggulan lain yang menjadi pilar stabilitas adalah pembinaan sektor riil melalui Petani Unggulan Sulawesi Utara (PATUA). Program yang eksis sejak 2014 ini bertujuan meningkatkan produktivitas petani lokal melalui sentuhan teknologi pertanian dan pelatihan intensif. BI memberikan bantuan sarana produksi sebagai stimulan agar kelompok tani bisa naik kelas dan mandiri secara ekonomi.
”Kami melakukan business matching antara hasil produksi petani binaan dengan gerai modern untuk menjamin kepastian pasar,” ujar Joko Supratikto saat menjelaskan mekanisme hilirisasi produk pertanian. Menurutnya, pembentukan koperasi sangat penting sebagai agregator agar petani memiliki posisi tawar yang kuat dan mendapatkan harga jual yang adil.
Hingga saat ini, program PATUA telah memasuki angkatan keenam dengan total 84 kelompok tani binaan. Salah satu capaian menarik adalah keterlibatan petani milenial, seperti kelompok Rukun Pemuda Kristen Taraitak dari Langowan.
Kelompok anak muda ini fokus pada komoditas cabai merah keriting dan kini mulai mengelola manajemen usaha melalui koperasi.
keberhasilan menjaga stabilitas harga memerlukan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat.
















