Jaguarinfo.id, Manado – Kawasan Pecinan Manado mendadak menjadi lautan manusia pada Selasa (03/03/2026). Ribuan warga serta wisatawan memadati area tersebut demi menyaksikan perayaan Cap Go Meh Manado yang berlangsung sangat meriah.
Antusiasme penonton memuncak saat para Tangsin mulai keluar dari klenteng masing-masing untuk menunjukkan atraksi spiritual yang khas.
Sembilan klenteng di bawah naungan Perhimpunan Tempat Ibadah Tridharma (PTID) Kota Manado turut menyemarakkan prosesi ritual ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan ini bukan sekadar upacara agama, melainkan telah menjadi magnet wisata religi terbesar di Sulawesi Utara.
Selain penduduk lokal, banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang sengaja datang untuk mengabadikan momen langka tersebut.
Ketua Perhimpunan Umat Tridharma Manado, Ridwan Sanyoto, menjelaskan bahwa rangkaian acara sebenarnya telah dimulai sejak sepekan lalu. Sebelum hari puncak, mereka menggelar upacara Goso Peda atau Gosok Pedang.
Ritual ini merupakan bentuk penghormatan tinggi pada hari kemuliaan Kongco Kwan Kong yang dipercaya sebagai sosok penebus dosa.
”Hari kemuliaan dari Kongco Kwan Kong. Di mana pada hari itu, para Yang Suci Sin Beng, khususnya Kongco Kwan Kong, membersihkan segala dosa manusia dan menebusnya,” ungkap Ridwan kepada awak media.
Ridwan menambahkan bahwa tradisi Goan Siau tahun ini melibatkan 14 usungan Kio dan 11 Tangsin yang turun ke jalan. Para peserta melewati jalur tradisional di pusat kota dengan pengawalan ketat dari pihak kepolisian dan dukungan penuh Pemerintah Kota Manado. Kehadiran para tokoh daerah juga menambah kekhidmatan suasana perayaan tahunan ini.
Kolaborasi Budaya dan Kekaguman Wisatawan
Meskipun berakar pada tradisi Tionghoa, perayaan Cap Go Meh Manado juga merangkul kearifan lokal.
Warga dapat melihat kolaborasi seni budaya khas Minahasa dan daerah lainnya yang menyatu dalam iring-iringan.
Hal inilah yang membuat pengunjung seperti Anik Santoso, warga asal Yogyakarta, merasa sangat terkesan meski ia datang ke Manado untuk urusan pekerjaan.
”Ini luar biasa sekali. Saya melihat bagaimana momen adat dan budaya bisa menyatu dengan begitu harmonis dalam perayaan ini,” ujar Anik dengan penuh semangat.
Senada dengan Anik, Metzger Cook yang merupakan turis asal Swiss juga tidak berhenti menekan tombol kameranya. Ia mengaku sangat terpukau dengan estetika mobil hias yang membawa anak-anak dengan kostum unik. Bagi Metzger, keunikan Festival Pecinan Manado ini memberikan pengalaman visual yang tidak akan ia temukan di negara asalnya.
”Ini sangat menarik! Saya kagum melihat sejumlah atraksi di sini. Selain para Tangsin, saya sangat suka dengan mobil-mobil yang dihias dan ada anak-anak kecil di atasnya,” kata Metzger.

Momentum malam ke-15 setelah Imlek ini memang menjadi simbol persatuan suku dan ras di Sulawesi Utara. Melalui rasa syukur atas berkat setahun lalu, masyarakat berharap tahun 2577 Kongzili membawa kemakmuran bagi semua. Kemeriahan ini sekali lagi membuktikan bahwa Manado adalah kota yang menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman budaya.
ADP
















