Jaguarinfo.id, Manado – Pemerintah Indonesia mengambil langkah berani dengan memindahkan jalur impor minyak dan gas bumi (migas) dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. Strategi swasembada energi ini menjadi solusi nyata Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Kebijakan kemandirian energi tersebut muncul sebagai respons cepat terhadap ketegangan di Selat Hormuz yang mengancam pasokan dunia saat ini.
Pakar ekonomi Universitas Negeri Manado, Dr. Robert R. Winerungan, menilai keputusan ini sangat tepat pada Rabu (4/3/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Beliau menjelaskan bahwa Amerika Serikat masih mendominasi ekonomi dan sumber daya alam global meskipun cadangannya mulai menurun.
Robert menganggap kesepakatan tersebut sebagai langkah strategis demi mengamankan stok dalam negeri dari risiko penutupan jalur distribusi internasional.
“Jujur kan Amerika masih boleh dikata (cadangan migas) memang sudah agak menurun, tapi paling tidak masih didominasi, ekonomi masih didominasi oleh Amerika. Termasuk sumber daya alam, sumber daya semuanya masih ada di sana. China oke, tapi tetap kita masih banyak mengandalkan Amerika sekarang ini. Jadi tepat lah kalau Presiden Prabowo menjalin agreement ya,” ujar Robert di Manado.
Diversifikasi untuk Ketahanan Energi Nasional
Pakar energi Unima, Reynaldo J. Saliki, menambahkan bahwa pengalihan ini menciptakan diversifikasi sumber energi yang sehat bagi Indonesia. Langkah tersebut secara otomatis mengurangi risiko ketergantungan akut pada satu wilayah konflik saja. Oleh karena itu, program swasembada energi dalam Asta Cita sangat krusial untuk menjawab tantangan transisi energi dan ketidakpastian harga global.
“Dalam situasi konflik geopolitik seperti sekarang, harga minyak tidak stabil, ada transisi energi, dan juga ketergantungan impor, program swasembada energi justru menjadi semakin penting,” ungkap Reynaldo.
Rektor Universitas Sariputra Indonesia Tomohon, Anggela A. Adam, turut menyoroti efisiensi dari kebijakan baru ini. Ia membandingkan kerugian masa lalu saat Indonesia terlalu bergantung pada Singapura yang tidak memiliki kekayaan alam sendiri. Anggela memandang visi kedaulatan ini sebagai rencana matang yang melibatkan penguatan kilang Balikpapan dan cadangan nasional.
“Ini strategi yang tepat dari Pak Prabowo. Karena sempat tadi saya sampaikan bahwa sebenarnya kita itu, saya sampaikan rugi besar karena kita mengandalkan Singapura. Bertahun-tahun ke Singapura. Padahal Singapura itu bukan ada sumber daya alamnya, bukan ada minyaknya. Mereka juga impor ke negara lain dan mereka up harganya dari industri. Nah itu sebenarnya jauh lebih rugi biayanya daripada kita ke Amerika Serikat,” papar Anggela.
Redaksi
















