Jaguarinfo.id, Manado – Bank Indonesia (BI) dan Dinas Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Utara terus bersinergi memperkuat Neraca Pangan Strategis di daerah.
Mereka menyelenggarakan kegiatan Capacity Building Neraca Pangan Strategis Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2026 pada 04/08/26.
Langkah strategis ini bertujuan untuk mengamankan data pangan daerah secara akurat sebagai landasan utama pengambilan keputusan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengawali kegiatan tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Daerah Sulut, Rahel R. Rotinsulu, menyoroti pentingnya peningkatan kualitas data.
Menurutnya, pemerintah sangat membutuhkan data yang valid agar pemanfaatannya lebih efektif.
Sementara itu Kepala Perwakilan BI Prov. Sulut, Joko Supratikto, resmi membuka acara sekaligus memaparkan tren inflasi terkini.
Ia mencatat Sulawesi Utara mengalami deflasi sebesar -1,05% (mtm) pada Juli 2026, sehingga inflasi tahun berjalan mencapai 3,38% (ytd). Angka ini menunjukkan inflasi Sulut berhasil kembali masuk ke dalam rentang sasaran nasional.
Pentingnya Data Ketersediaan Pangan Terintegrasi
Meskipun laju inflasi mulai aman, Joko mengingatkan semua pihak agar tetap mewaspadai gejolak harga komoditas pangan yang rentan terdampak gangguan produksi dan distribusi.
”Meskipun inflasi kita kembali masuk pada rentang sasaran nasional, tekanan pada kelompok pangan bergejolak tetap perlu kita waspadai mengingat tingginya ketergantungan pasokan dari luar daerah. Oleh karena itu, penguatan sinergi TPID melalui kerangka 4K dan program GPIPS sangat membutuhkan dukungan data pasokan yang akurat, tervalidasi, dan terkini melalui Neraca Pangan Strategis,” tegas Joko Supratikto.
Kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah pakar untuk memperkuat koordinasi. Turut hadir Ketua Tim Pengelolaan Ketersediaan Pangan Bapanas Tri Aris Indrayanto, Statistisi Ahli Madya BPS Sulut Norma Olga Frida Rega, serta Tim Ahli Gubernur Dr. Ir. Adolf Lucky Longdong dan Ir. Johan Victor Malonda.
Kehadiran para narasumber ini diharapkan mampu mendorong ketersediaan data pangan yang lebih terintegrasi.

















