Jaguarinfo.id, Manado – Penerapan keuangan digital terbukti menjadi motor penggerak baru bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satu bukti nyatanya terlihat jelas di Kawasan Sun Bae, yang terletak di Kawasan Megamas Manado, Kamis (24/9/2026).
Di lokasi yang selalu ramai dari sore hingga malam hari oleh para pengunjung muda ini, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bidang kopi dan makanan ringan seluruhnya telah beralih menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai metode pembayaran utama.
Uniknya, para pelaku UMKM di Kawasan Sun Bae menjajakan produk mereka menggunakan deretan mobil jadul bergaya klasik yang estetik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di balik pesona kendaraan lawas tersebut, ekosistem transaksi yang berjalan justru sangat modern, cepat, dan serba digital.

Bagi sebagian pelaku usaha yang mangkal di kawasan ini, migrasi dari transaksi tunai ke digital awalnya sempat terasa canggung.
Hal ini diakui oleh Fahreji Talibu (34) atau yang akrab disapa Eji, salah satu pedagang yang membuka kedai kopi menggunakan mobil klasik di Kawasan Sun Bae. Ia mengenang bagaimana repotnya melayani pembeli saat masih bergantung pada uang tunai fisik.
”Awalnya saya merasa pakai QRIS itu ribet dan sulit karena tidak biasa memegang smartphone terus-menerus saat melayani pembeli. Tapi sebelum pakai QRIS, jujur jauh lebih melelahkan karena setiap malam minggu masalah utamanya adalah kehabisan uang recehan. Transaksi jadi macet dan terasa sulit karena tidak ada uang kembali untuk pembeli,” ujar Eji mengenang masa-masa awal usahanya.
Namun, setelah melihat rekan-rekan sesama pedagang di Kawasan Sun Bae mulai beralih ke non-tunai, Eji akhirnya memutuskan ikut memasang barcode QRIS di meja mobil jadulnya.
”Sekarang setelah pakai QRIS, saya baru sadar ini sangat menguntungkan. Tidak ada lagi drama sibuk mencari kembalian ke lapak sebelah atau pembeli yang batal belanja karena uang mereka pecahan besar. Semua pas, langsung masuk rekening,” tambahnya.
Kemudahan transaksi digital ini juga dirasakan langsung oleh para pengunjung yang memadati Kawasan Sun Bae sejak matahari terbenam.

Tessa Melisa (22), seorang mahasiswa perguruan tinggi di Manado yang sedang nongkrong di sana, mengaku sangat terbantu dengan adanya standardisasi pembayaran digital ini.
”Nongkrong di Kawasan Sun Bae ini seru karena konsep mobil-mobil jadulnya unik, bisa melihat pemandangan sunset, dan yang paling penting pembayarannya sangat mudah. Tinggal scan QRIS pakai mobile banking atau e-wallet, transaksi langsung selesai dalam hitungan detik tanpa perlu repot bawa dompet tebal,” kata Tessa setelah membeli makanan ringan.
BI Sulut: Keuangan Digital Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Keberhasilan digitalisasi di Kawasan Sun Bae ini sejalan dengan misi Bank Indonesia dalam melakukan optimalisasi keuangan digital untuk pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah.
Kepala KPw Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, mengungkapkan bahwa fenomena di kawasan tersebut merupakan model pengembangan ekonomi kreatif yang sangat relevan dengan kebutuhan zaman.
”Saya juga memang sering ke Sun Bae, dan itu menarik karena kafe-kafe di sana menggunakan mobil atau yang biasa disebut food truck berjejer. Ini fenomena yang menarik, karena termasuk juga pengembangan UMKM yang sekarang ini sangat diminati kaum muda,” ujar Joko Supratikto melalui sambungan telepon.
Ia menambahkan, kebutuhan akan kepraktisan menjadi pendorong utama adopsi QRIS baik bagi konsumen maupun penjual.
”Anak-anak muda maupun yang dewasa butuh kepraktisan dalam pembayaran, begitu pula para penjualnya menjadi lebih praktis sehingga semuanya sudah menggunakan QRIS. Ini menarik karena semakin mengajak masyarakat melek digital, memudahkan pelaku usaha mengelola uang masuk dan keluar sehingga lebih mudah merencanakan keuangan ke depannya serta mempermudah pencatatan,” jelasnya.
Joko juga memaparkan bahwa adopsi serupa tidak hanya terpusat di Kawasan Sun Bae saja, melainkan akan terus didorong ke berbagai wilayah potensial lainnya di Sulawesi Utara, seperti Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa, Kota Kotamobagu, dan daerah lain.
Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi Bank Indonesia dalam memperluas ekosistem transaksi digital QRIS bagi UMKM.
Sementara itu, data terakhir dari KPw Bank Indonesia Provinsi Sulut mencatat pengguna QRIS di Provinsi Sulawesi Utara pada periode Juli 2026 telah berada di angka 615.794 pengguna, dengan jumlah merchant mencapai 388.321 merchant.
Adapun tiga kabupaten/kota dengan jumlah merchant tertinggi meliputi:
Kota Manado: 158.057 merchant
Kabupaten Minahasa: 41.433 merchant
Kota Bitung: 34.026 merchant
Transformasi digital yang bergeliat dari sudut-sudut kawasan kreatif seperti Sun Bae membuktikan bahwa perpaduan estetika gaya hidup retro dan efisiensi modern merupakan wujud nyata optimalisasi keuangan digital untuk pertumbuhan ekonomi di Bumi Nyiur Melambai.















