Jaguarinfo.id, Jakarta – Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo (FEKDI x IFSE) 2026 resmi dibuka di Jakarta International Convention Center (JICC).
Mengusung tema “Mempererat Sinergi, Memacu Inovasi, Mencetak Talenta Unggul Berdaya Saing Global untuk Kemajuan Ekonomi Keuangan Digital Nasional”, perhelatan akbar ini menjadi pilar utama dalam mengakselerasi transformasi ekonomi digital tanah air.
Ajang bergengsi ini dibuka secara resmi oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi, dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian pada Rabu (24/9).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penyelenggaraan FEKDI x IFSE 2026 juga disinergikan secara strategis dengan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Inflasi (PI) dan Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD).
Lonjakan Transaksi dan Pertumbuhan Ekonomi Digital Nasional
Dalam sambutannya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti potensi besar ekonomi digital Indonesia yang saat ini tercatat sebagai yang terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Nilai ekonomi digital Indonesia mendekati USD100 miliar pada 2025 dan diproyeksikan melesat hingga USD180–340 miliar pada 2030 mendatang.
Pertumbuhan impresif tersebut turut tercatat dalam data kinerja per Agustus 2026:
Transaksi Ekonomi Keuangan Digital (EKD): Tumbuh 48,36% secara tahunan (yoy) atau mencapai 6,11 miliar transaksi.
Akseptasi QRIS: Melonjak signifikan hingga menyentuh 69,32 juta pengguna dan 47,11 juta merchant.
Infrastruktur BI-FAST: Mencatatkan volume transaksi ritel sebanyak 549 juta transaksi dengan total nilai mencapai Rp1.346 triliun.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa akselerasi digital ini harus terus didorong di tengah ketidakpastian global, dengan tetap mengutamakan pengamanan sistem pembayaran dan pelindungan konsumen yang inklusif.
Sulawesi Utara Tampilkan Performa Digital dan Cetak Talenta Unggul
Sejalan dengan tren positif nasional, Provinsi Sulawesi Utara menunjukkan lompatan signifikan dalam adopsi ekonomi dan keuangan digital.
Hingga Agustus 2026, adopsi QRIS di wilayah ini telah menjangkau 634 ribu pengguna serta 402 ribu merchant.
Sementara itu, volume transaksi ritel menggunakan BI-FAST di Sulawesi Utara menembus angka 15,98 juta transaksi dengan nilai nominal mencapai Rp8,67 triliun.
Prestasi daerah ini semakin lengkap dengan keberhasilan talenta muda Sulawesi Utara di kancah nasional dalam rangkaian ajang FEKDI x IFSE 2026:
Tim YUDHA AJA (Universitas Sam Ratulangi): Sukses menyabet Juara 2 PIDI DIGDAYA x HACKATHON 2026 kategori Mahasiswa. Tim beranggotakan Ridho Aditya Rosman Eka Putra (Ketua), Galnoel Peter Rindengan, Ahmad Triadi Julianto, dan Regina Maria Samantha George (seluruhnya dari Prodi Teknik Informatika, Fakultas Teknik Unsrat) ini memamerkan platform inovatif “YUDHA” untuk akselerasi kesiapan kerja berbasis PvP Battle dan analitik AI.
Lufry Franska (Kota Manado): Meraih Juara 4 KATALIS P2DD kategori Utama KATALIS II. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas inovasi tata kelola pemerintahan daerah yang efektif, efisien, dan berbasis digital.
Ke depan, Bank Indonesia bersama Pemerintah Daerah dan para pemangku kepentingan berkomitmen untuk terus memperkuat infrastruktur serta ekosistem digital demi mendongkrak produktivitas dan daya saing ekonomi Sulawesi Utara secara berkelanjutan.
















