Jaguarinfo.id, Manado – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara secara resmi merilis data inflasi daerah per 1 Oktober 2026. Tercatat pada September 2026, Sulawesi Utara mengalami inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 3,53 persen dibandingkan Agustus 2026.
Sementara itu, inflasi tahun kalender (Januari–September 2026) berada di level 7,35 persen dan inflasi tahunan mencapai 7,59 persen.
Lonjakan ini didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan kenaikan sebesar 9,85 persen menurut BPS.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Komoditas utama yang memicu kenaikan tersebut meliputi cabai rawit, tomat, cabai merah, ikan selar/ikan tude, serta kangkung.
Menanggapi dinamika ekonomi tersebut, Pengamat Ekonomi Senior Sulawesi Utara, Recky Langie, menyampaikan saran kepada Pemerintah Daerah Sulawesi Utara beserta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk segera melihat dan menata ulang rantai pasok bahan makanan guna mencegah inflasi yang semakin meningkat.
Langkah antisipasi ini dinilai semakin mendesak mengingat daerah akan segera menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.
Memasuki momentum HBKN, kebutuhan masyarakat dipastikan mengalami peningkatan signifikan.
Recky Langie menjelaskan bagaimana eskalasi konsumsi ini berdampak langsung pada siklus distribusi.
”Biasanya kalau mau masak nasi setiap hari hanya satu liter per hari, kini pasti akan meningkat kali 10 liter untuk setiap kegiatan dan tentunya bukan hanya beras tapi untuk setiap kebutuhan lainnya. Nah untuk itu pemda sulut sendiri harus melihat dan mengatur rantai pasok komoditi bahan ini, untuk mencegah inflasi yang lebih tinggi.” Kata Recky
Tidak hanya berfokus pada lonjakan permintaan musiman, Recky Langie juga menyoroti fenomena alam yang sedang terjadi, seperti kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut.
Ia memprediksi kondisi ini berpotensi memicu gagal panen yang dapat mengganggu stabilitas pasokan di pasaran.
Terkait kerawanan sektor pertanian akibat cuaca ekstrem ini, Recky menegaskan perlunya perhatian serius terhadap ketersediaan stok pangan.
Tidak hanya itu recky langie juga menyoroti fenomena alam yang terjadi saat ini seperti kemarau panjang.
Iya pun memprediksi akan terjadi gagal panen makanya perlu diperhatikan ketersediaan stok pangan.
Sebagai langkah nyata di tingkat masyarakat untuk meredam tekanan ekonomi, ahli di bidang investasi ini turut mengajak seluruh elemen warga agar proaktif menjaga efisiensi pengeluaran dan ketahanan pangan rumah tangga selama musim kemarau berlangsung.
Recky pun memberikan imbauan strategis kepada publik.
”Tanam cabai dan bawang di pekarangan rumah. Gunakan air secara hemat untuk menjaga ketersediaan tanaman. Beli bahan pangan lokal untuk memangkas biaya distribusi. Hindari panic buying atau memborong sembako berlebihan. Kurangi sisa makanan agar pengeluaran rumah tangga efisien.” Imbau Recky.
Dengan kombinasi kebijakan taktis pemerintah dalam membenahi rantai pasok serta partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kemandirian pangan, gelombang tekanan inflasi di Sulawesi Utara diharapkan mampu diredam demi menjaga stabilitas kesejahteraan warga menjelang akhir tahun.















