Jaguarinfo.id, Manado – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara (Sulut) menyoroti tekanan ekonomi global yang semakin meningkat. Kepala BI Sulut, Joko Supratikto, memaparkan hal ini dalam kegiatan bincang media bertajuk SENJA (Sinergi dan Jalin Komunikasi) di Ruang Tondano KPw BI Provinsi Sulut, 21/07/26.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kenaikan harga energi dan fluktuasi pasar keuangan dunia. Akibatnya, prospek pertumbuhan ekonomi melemah. Joko menjelaskan bahwa situasi tersebut mempersempit ruang pelonggaran moneter.
”ini kalau kita lihat kondisi Global saat ini, tantangannya masih cukup tinggi, rencana perdamaian antara iran dan AS ternyata belum berjalan baik, dan nampaknya perdamaian itu masih jauh,” kata Joko.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dampak Tekanan Ekonomi Global Terhadap Inflasi
Kondisi geopolitik tersebut sangat mengganggu pasokan internasional, khususnya pasokan minyak bumi. Oleh karena itu, inflasi di berbagai negara terus merangkak naik.
”nah kalau lihat dalam grafik ini tentunya ekonomi dunia ini cenderung melemah dan tekanan inflasi global semakin meningkat,” tambah Joko.
Selanjutnya, banyak bank sentral merespons situasi ini dengan kebijakan moneter yang sangat ketat. Mereka mulai menaikkan suku bunga acuan untuk mengendalikan laju inflasi secara optimal.
”Jepang yang biasanya suku bunganya rendah sekarang sudah 1 %, Bank Sentra Filipin juga, beberapa bank sentral kawasan juga menaikan suku bunganya. Ini adalah bentuk respon bank bank sentral di dunia,” ungkap Joko.
Selain itu, imbal hasil aset keuangan di negara maju tetap tinggi. Dolar Amerika Serikat juga terus menguat terhadap berbagai mata uang, termasuk Rupiah. Para investor kini mengalihkan dana mereka ke aset aman.
Oleh sebab itu, aliran modal ke negara berkembang seperti Indonesia menjadi sangat terbatas.
Pihak Bank Indonesia menyatakan akan terus memantau ketat perkembangan situasi ekonomi internasional ini.















