Pulau Sangihe Dijarah Tambang Kanada, SSI Ungkap Kerusakan Parah: Bukit Hancur, Laut Tercemar, Suara Rakyat Diabaikan

- Aldy Pascoal

Jumat, 19 Desember 2025 - 15:09 WITA

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jaguarinfo.id, Sangihe – Aktivis lingkungan yang tergabung dalam Save Sangihe Island (SSI) kembali melontarkan kecaman keras terhadap aktivitas pertambangan emas PT Tambang Mas Sangihe (TMS) yang diduga kembali beroperasi di wilayah selatan Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Aktivitas tersebut dinilai semakin memperparah kerusakan lingkungan di kawasan perbukitan Desa Bowone dan Desa Binebas.

Melalui unggahan di media sosial, SSI mempublikasikan sejumlah foto terbaru yang memperlihatkan kondisi Pulau Sangihe saat ini. Terlihat jelas perbukitan yang terkoyak, vegetasi yang hilang, serta bekas aktivitas tambang yang meninggalkan luka ekologis mendalam.

“Ini adalah keadaan Pulau Sangihe hari ini. Pergulatan yang dimenangkan rakyat di Mahkamah Agung pada 2022 lalu menjadi sia-sia,” tulis SSI dalam unggahan mereka di platform X.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

SSI menegaskan, Pulau Sangihe merupakan pulau kecil yang secara hukum dan ekologis tidak layak untuk aktivitas pertambangan. Namun hingga kini, wilayah tersebut justru terus dieksploitasi oleh perusahaan tambang emas yang disebut berasal dari Kanada.

Baca Juga :  Tokoh Adat Sulut Tonaas Wangko PNTTM Izhak Tambani Beri Ucapan Selamat Ulang Tahun kepada Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Dr. Roycke Harry Langie, S.I.K., M.H.

Tak hanya daratan, dampak kerusakan juga diduga telah merambah wilayah laut. SSI menyebut, limbah pertambangan berpotensi mencemari perairan sekitar pulau, mengancam ekosistem pesisir sekaligus sumber penghidupan masyarakat nelayan.

“Keadaannya sudah separah ini. Limbahnya sudah jelas, laut sudah tercemar. Ironisnya, aktivitas ini justru terus mendapatkan sokongan pemerintah,” tulis SSI.

Menurut mereka, kerusakan lingkungan yang terjadi di Sangihe bukanlah kasus tunggal. Pola serupa juga terlihat di wilayah lain seperti Papua dan Sumatera, yang dinilai sebagai akibat dari kerakusan kekuasaan dan korporasi atas nama investasi.

Dalam pernyataan sikapnya, SSI menegaskan penolakan mutlak terhadap keberlanjutan tambang emas di Pulau Sangihe. Bagi mereka, perjuangan ini bukan sekadar soal lingkungan, melainkan soal keberlangsungan hidup.

“Kami menolak untuk mati, kami menolak untuk dibunuh pelan-pelan. Ini bukan hanya tentang Sangihe, tetapi tentang semua orang yang hari ini mengalami bencana mematikan akibat perusakan lingkungan,” tegas SSI.

Baca Juga :  Astra Honda Racing School 2026 Pilih 10 Pebalap Muda Terbaik

SSI juga menyampaikan solidaritas kepada masyarakat di Sumatera yang terdampak bencana alam, yang mereka nilai sebagai konsekuensi langsung dari eksploitasi alam berlebihan dan kebijakan yang mengabaikan keselamatan rakyat.

“Kami bersolidaritas dengan saudara-saudara kami di Sumatera. Kami tidak akan membiarkan kehancuran ini terjadi di mana pun, terlebih di tanah air kami sendiri, Sangihe,” tandas mereka.

Diketahui, tambang emas PT Tambang Mas Sangihe berlokasi di Pulau Sangihe, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dengan luas wilayah konsesi sekitar 42.000 hektare yang mencakup wilayah selatan pulau, termasuk Desa Bowone dan Desa Binebas. Wilayah yang seharusnya dilindungi sebagai pulau kecil itu kini disebut berada dalam kondisi rusak parah akibat aktivitas pertambangan berskala besar.

SSI menegaskan akan terus menyuarakan penolakan serta menggalang solidaritas luas untuk menyelamatkan Pulau Sangihe dari kehancuran.

Follow WhatsApp Channel www.jaguarinfo.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Honda DBL North Sulawesi 2026 Tuntas, Eben Haezar dan Manado Independent School Juara
BREAKING NEWS ! Steven Liow dan Christian Iroth Resmi Ditahan Polda Sulut Terkait Dugaan Korupsi Dana Publikasi
Kapolda Sulut Kunjungi Pasar Bersehati, Serap Aspirasi Pedagang dan Tegaskan Layanan Polisi 110
BI Sulut Boyong Jurnalis Ikuti Workshop Kode Etik Jurnalistik di Tempo Media Group
Kapolda Sulut dan Wali Kota Manado Salurkan 68.000 Liter Air Bersih ke Siladen dan Manado Tua
Kapolda Sulut Bersama Wali Kota Manado Tanam Mangrove di Bunaken
Resky Yusuf Hermawan Raih Double Podium di Thailand Talent Cup 2026
Kapolda Sulut Irjen Pol Yudho Hermanto Sambangi Jalan Roda Manado, Pererat Silaturahmi dengan Masyarakat
Berita ini 43 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 00:21 WITA

Honda DBL North Sulawesi 2026 Tuntas, Eben Haezar dan Manado Independent School Juara

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:19 WITA

BREAKING NEWS ! Steven Liow dan Christian Iroth Resmi Ditahan Polda Sulut Terkait Dugaan Korupsi Dana Publikasi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:14 WITA

Kapolda Sulut Kunjungi Pasar Bersehati, Serap Aspirasi Pedagang dan Tegaskan Layanan Polisi 110

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:08 WITA

BI Sulut Boyong Jurnalis Ikuti Workshop Kode Etik Jurnalistik di Tempo Media Group

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:22 WITA

Kapolda Sulut Bersama Wali Kota Manado Tanam Mangrove di Bunaken

Berita Terbaru