Jaguarinfo.id, Manado – Lonjakan harga bahan baku plastik dalam beberapa bulan terakhir mulai mengancam stabilitas berbagai sektor industri nasional.
Fenomena kenaikan harga plastik ini muncul sebagai dampak berantai dari melambungnya harga minyak global serta gangguan rantai pasok dunia.
Ketidakpastian geopolitik yang terus memanas, terutama konflik di Timur Tengah, menjadi pemicu utama mahalnya komoditas material polimer tersebut saat ini. Kondisi ini memberikan tekanan besar bagi industri manufaktur, penyedia kemasan, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di Kota Manado, Sulawesi Utara, para pemilik kedai mulai memutar otak untuk bertahan di tengah situasi sulit. Salah satu yang merasakan dampaknya secara langsung adalah M Coffee Resto yang berlokasi di Kelurahan Sario.
Dampak Kenaikan Harga Plastik di Manado
Manajemen M Coffee Resto terpaksa mengambil langkah drastis guna menyiasati tingginya biaya produksi.
Mereka kini secara bertahap mulai meninggalkan penggunaan cup plastik dan beralih menggunakan gelas kaca untuk penyajian minuman.
Langkah ini menjadi solusi alternatif paling masuk akal agar bisnis tetap berjalan tanpa harus membebani konsumen secara berlebihan.
Penanggung Jawab M Coffee Resto, Yosua, mengungkapkan bahwa perubahan ini merupakan respons cepat terhadap kondisi pasar.
Pada Selasa (14/04/2026), ia menjelaskan bahwa beban operasional melonjak signifikan akibat mahalnya bahan pembungkus. Peralihan ke media kaca dianggap mampu menekan pemborosan anggaran yang terjadi selama periode fluktuasi harga ini.
”Hal ini tentu berdampak pada kenaikan beban operasional. Dari hitungan kami, beban operasional naik hingga 30 persen,” ujar Yosua saat memberikan keterangan di Manado.
Ia menambahkan bahwa setelah melakukan evaluasi internal, pihak manajemen memutuskan untuk melakukan efisiensi total.
Strategi utamanya adalah dengan tidak lagi menggunakan plastik secara menyeluruh pada setiap layanan di kedai tersebut.
Oleh karena itu, pengelola sangat berharap pemerintah atau pihak terkait segera mengambil kebijakan konkret. Mereka membutuhkan intervensi untuk menstabilkan harga bahan baku di pasar domestik secepat mungkin.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa kendali, banyak pelaku usaha serupa yang mungkin akan mengalami kesulitan finansial lebih dalam.
















