Jaguarinfo.id, Manado – Malam puncak pemilihan Nyong Noni Kebudayaan Sulut 2026 berlangsung meriah di Gedung Mapalus, Kantor Gubernur Sulawesi Utara.
Elfrido Tarima yang mewakili Kota Manado bersama Militya Manopo dari Kabupaten Minahasa Tenggara resmi dinobatkan sebagai pemenang.
Pasangan ini berhasil menyisihkan 19 finalis lainnya melalui persaingan yang sangat ketat. Selain itu, ajang duta budaya ini menjadi pembuktian bagi generasi muda dalam menjaga identitas lokal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Elfrido dan Militya Unggul dalam Wawasan Budaya
Panitia menetapkan standar penilaian yang sangat tinggi pada ajang tahun ini. Para juri tidak hanya melihat keanggunan busana adat, tetapi juga menguji visi pelestarian budaya para kontestan. Elfrido dan Militya tampil memukau saat memaparkan solusi menghadapi tantangan modernisasi yang mengancam warisan leluhur. Oleh karena itu, dewan juri memberikan nilai tertinggi bagi keduanya karena kompetensi yang luar biasa.
Ketua Dewan Pembina NNKS, Conny Waleleng, M.Th., menjelaskan bahwa penilaian berlangsung secara komprehensif. Pihaknya ingin memastikan pemenang mampu menunjukkan eksistensi nyata di tengah masyarakat luas.
Selanjutnya, Elfrido dan Militya memikul tanggung jawab besar sebagai representasi semangat kaum muda Sulawesi Utara.
Sinergi Pemerintah dan Duta Kebudayaan Sulawesi Utara
Kehadiran Staf Khusus Gubernur Bidang Kepemudaan, Farist Soeharyo, menambah optimisme terhadap masa depan kebudayaan daerah. Farist memberikan apresiasi mendalam atas potensi besar yang ditunjukkan oleh para pemuda Sulut.
“Malam ini adalah bukti betapa potensialnya pemuda Sulut dalam menjaga identitas budaya. Saya berharap NNKS terus bersinergi dengan pemerintah Sulawesi Utara untuk melaksanakan program kerja bersama,” ujar Farist dengan antusias.
Senada dengan hal itu, Conny Waleleng menekankan peran strategis yang harus segera dijalankan oleh para pemenang. Elfrido dan Militya wajib terlibat aktif dalam promosi wisata serta penguatan bahasa daerah.
“Elfrido dan Militya telah terbukti berkompeten. Mereka diharapkan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian budaya, seperti promosi wisata budaya, penguatan bahasa daerah, dan kolaborasi dengan komunitas adat,” tegas Conny.
Transformasi Diplomasi Budaya di Level Internasional
Ketua Panitia Pelaksana, Corry Angelica Waleleng, M.Sc., merasa sangat bersyukur atas kelancaran acara tersebut. Keberhasilan ini terwujud berkat dukungan penuh dari berbagai sponsor dan pemerintah daerah.
Momentum ini sekaligus memperkuat posisi organisasi sebagai wadah utama pengembangan minat bakat generasi muda di bidang adat istiadat.
Saat ini, organisasi tersebut mulai bertransformasi menjadi sarana diplomasi budaya yang lebih modern dan dinamis. Mereka membawa nilai-nilai lokal ke panggung internasional melalui kolaborasi digital dan festival lintas daerah.
Melalui program kerja yang terukur, Nyong Noni Kebudayaan Sulut 2026 diharapkan mampu menjaga warisan leluhur agar tetap hidup selamanya.
















