Perundingan Damai AS-Iran di Islamabad Gagal Capai Kesepakatan Akhir

- Redaksi

Senin, 13 April 2026 - 00:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kegagalan kesepakatan dalam perundingan damai AS-Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.

Kegagalan kesepakatan dalam perundingan damai AS-Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.

Jaguarinfo.id, Washington – Proses perundingan damai AS-Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa titik temu pada Minggu (12/04/2026).

Dilansir dari BBC News, Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, mengonfirmasi bahwa kedua negara belum berhasil menyepakati poin-poin krusial untuk mengakhiri konflik.

Meskipun demikian, Vance menilai adanya diskusi substantif dalam dialog Amerika-Teheran ini sebagai perkembangan yang penting bagi hubungan kedua negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Vance menjelaskan bahwa kegagalan ini terjadi karena pihak Iran enggan menerima syarat-syarat yang Washington tawarkan.

“Kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan Iran, itu kabar baiknya. Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan menurut saya ini adalah kabar buruk bagi Iran, jauh lebih buruk daripada bagi AS,” ujar Vance dalam konferensi pers.

​Pemerintah Amerika Serikat mengklaim telah menunjukkan sikap fleksibel dan itikad baik selama 21 jam proses negosiasi.

Presiden Donald Trump bahkan memantau langsung perkembangan tersebut dengan menghubungi Vance belasan kali. Namun, Washington menegaskan tidak akan memberikan konsesi lebih lanjut setelah pertemuan di Islamabad tersebut berakhir.

​”Kami meninggalkan tempat ini dengan sebuah proposal yang sangat sederhana, sebuah pemahaman bahwa ini adalah penawaran terakhir dan terbaik dari kami. Kita lihat saja apakah pihak Iran akan menerimanya,” tegas Vance.

Baca Juga :  UN Women Apresiasi Komitmen Polri dalam HeForShe Awards 2025

Ia menambahkan bahwa prioritas utama Trump tetaplah mencegah Iran memiliki senjata nuklir demi keamanan global.

​Sikap Tegas Iran Terhadap Tuntutan Berlebihan AS

​Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengakui bahwa diskusi berjalan sangat intens.

Namun, Teheran melemparkan balik tanggung jawab kegagalan ini kepada pihak Amerika Serikat. Menurutnya, kesuksesan perundingan damai AS-Iran sangat bergantung pada kejujuran pihak lawan dalam mengakui kepentingan nasional Iran.

​Baqaei menyerukan agar Washington segera menghentikan tuntutan yang mereka anggap melanggar hukum internasional.

“Kami meminta AS menahan diri dari tuntutan yang berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum,” ungkap Baqaei.

Ia juga menekankan pentingnya pembahasan mengenai Selat Hormuz dan pengakhiran total perang yang berdampak pada warga Iran.

​Dampak Eskalasi Militer di Lebanon Terhadap Perundingan

​Situasi keamanan di Lebanon menjadi ganjalan besar yang mengancam keberlanjutan diplomasi nuklir dan perdamaian ini. Serangan Israel terhadap Hizbullah memicu kemarahan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.

Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam melihat sekutunya diserang saat proses diplomasi sedang berjalan.

Baca Juga :  BNNP Sulut Ungkap 19 Tersangka Kasus Narkotika Sepanjang 2025

​”Kelanjutan tindakan-tindakan ini akan membuat perundingan menjadi tanpa makna. Jari-jari kami tetap berada di pelatuk. Iran tidak akan pernah meninggalkan saudara-saudari Lebanon kami,” tulis Pezeshkian melalui akun media sosial X miliknya.

Hal ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas kawasan meskipun delegasi tingkat tinggi sudah bertemu di meja perundingan.

​Peran Pakistan dalam Mediasi Konflik AS-Iran

​Meskipun kesepakatan gagal, JD Vance memberikan apresiasi tinggi kepada Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, dan Jenderal Asim Munir.

Pakistan telah bekerja keras sebagai tuan rumah untuk memfasilitasi pertemuan antara delegasi pimpinan JD Vance dan Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf.

Vance menegaskan bahwa kegagalan ini murni karena perbedaan posisi politik kedua negara, bukan karena kendala teknis dari mediator.

​Saat ini, dunia sedang menunggu apakah proposal 10 butir dari Iran atau tawaran terakhir AS akan menemui titik temu.

Selanjutnya, Departemen Luar Negeri AS berencana menggelar pembicaraan lanjutan di Washington pekan depan.

Namun, publik masih meragukan efektivitas langkah tersebut selama ketegangan militer di perbatasan Israel dan Lebanon belum mereda sepenuhnya.

Follow WhatsApp Channel www.jaguarinfo.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapal Filipina Diduga Pasok Sianida untuk Tambang Emas Ilegal di Gorontalo
Tips Posisi Berkendara Nyaman agar Tidak Cepat Lelah Saat Naik Motor
Personel Ditpolairud Polda Sulut Berhasil Padamkan Kebakaran Kapal KM Maranatha 04 di Selat Lembeh
Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM Minahasa Selatan Aman Pasca Insiden Mobil Tangki
Bawa Senjata Tajam di Kairagi, Dua ABG Ditangkap Tim Resmob Polda Sulut
Kenaikan Harga Plastik Paksa Pelaku Usaha di Manado Beralih ke Gelas Kaca
Recky Langie Apresiasi Peran Bank Indonesia dalam Sukseskan Paskah Nasional 2026 di Manado
PLN Icon Plus: Melayani dari Hati di Paskah Nasional 2026
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 15:52 WITA

Kapal Filipina Diduga Pasok Sianida untuk Tambang Emas Ilegal di Gorontalo

Rabu, 15 April 2026 - 12:42 WITA

Tips Posisi Berkendara Nyaman agar Tidak Cepat Lelah Saat Naik Motor

Rabu, 15 April 2026 - 11:31 WITA

Personel Ditpolairud Polda Sulut Berhasil Padamkan Kebakaran Kapal KM Maranatha 04 di Selat Lembeh

Rabu, 15 April 2026 - 01:44 WITA

Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM Minahasa Selatan Aman Pasca Insiden Mobil Tangki

Rabu, 15 April 2026 - 01:31 WITA

Bawa Senjata Tajam di Kairagi, Dua ABG Ditangkap Tim Resmob Polda Sulut

Berita Terbaru