Nestapa Meilany, Pekerja Migran Manado yang Disekap dan Disiksa di Jalur Konflik Libya

- Redaksi

Sabtu, 24 Januari 2026 - 23:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jaguarinfo.id, Manado – Isak tangis pecah di sebuah rumah sederhana di Kelurahan Paal IV, Kecamatan Tikala, Kota Manado. Keluarga Meilany Madalomban (28), seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Sulawesi Utara, kini dirundung kecemasan luar biasa. Meilany dilaporkan menjadi korban dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan kini terjebak dalam kondisi memprihatinkan di Tripoli, Libya.

​Kisah pilu ini menyeruak ke publik setelah sebuah video testimoni berdurasi 1 menit 40 detik viral di jagat maya. Dalam rekaman tersebut, wajah Meilany tampak sembab. Dengan suara yang bergetar menahan tangis, ia menceritakan bagaimana dirinya dieksploitasi di negara yang hingga kini masih dibayangi konflik bersenjata tersebut.

​Meilany mengungkapkan bahwa dirinya adalah korban penipuan oknum perekrut. Awalnya, ia dijanjikan akan ditempatkan sebagai pekerja di Turki. Namun, kenyataan pahit justru menghantamnya saat ia dibawa ke Dubai selama dua minggu, sebelum akhirnya diterbangkan secara sepihak ke Libya tanpa persetujuan maupun dokumen resmi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​“Saya Meilany Madalomban, saya korban TPPO asal Sulawesi Utara. Saya tereksploitasi dari sponsor Jimmy Langkay,” ujar Meilany dalam video yang beredar luas tersebut.

​Sudah sebelas bulan Meilany mendekam di Libya. Ia dipaksa bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan jam kerja yang melampaui batas kemanusiaan. Tanpa kontrak kerja yang jelas dan perlindungan hukum, kondisi kesehatannya kini mulai ambruk.

Baca Juga :  Recky Langie Resmi Pimpin Panitia Paskah Nasional 2026, Siap Wujudkan Laboratorium Toleransi di Sulut

​“Saya dijanjikan bekerja di Turki. Tiba-tiba saya sudah berada di Dubai. Setelah itu saya dikirim ke Libya. Saya sudah terjebak di sini selama 11 bulan dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga,” ungkapnya sambil terus terisak.

​Lebih lanjut, ia mengeluhkan rasa sakit yang luar biasa pada bagian fisiknya akibat beban kerja yang terlampau berat setiap harinya. “Saya bekerja tanpa surat kontrak, jam kerja sangat berlebihan. Saya tidak kuat lagi. Badan saya sakit-sakit, tulang belakang saya sangat sakit,” tuturnya.

​Di tengah ketakutan dan rasa sakit, Meilany hanya bisa menggantungkan harapan pada Pemerintah Republik Indonesia. Ia memohon kepada Kementerian Luar Negeri, BP2MI, Kementerian HAM, hingga pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk menjemputnya dari neraka dunia tersebut.

​“Saya sudah meminta kepada majikan untuk dipulangkan, tetapi mereka tidak mau. Saya mohon kepada pemerintah Indonesia, tolong pulangkan saya ke tanah air,” pintanya penuh harap.

​Di Manado, pihak keluarga tidak tinggal diam. Adik korban, Olivia Sangkay, bersama ibunya, Bernadette Sangkay, terus berupaya mengetuk pintu hati pemerintah. Olivia menceritakan bahwa kakaknya kerap menghubungi keluarga dengan nada putus asa karena sering menerima penyiksaan dari sang majikan.

Baca Juga :  Kapolda Sulut Irjen Pol Roycke Harry Langie Perintahkan Buru Pelaku Begal demi Keamanan Warga

​“Dia sudah minta-minta tolong ke kami karena dia disiksa. Kami di sini sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi,” ujar Olivia dengan suara lirih saat ditemui di kediamannya, Jumat (23/1/2026).

​Pihak keluarga kini melayangkan permohonan terbuka kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan jajaran menteri terkait agar segera mengambil langkah diplomasi cepat. Mereka juga berharap Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling, dapat turun tangan membantu kepulangan Meilany.

​”Kami keluarga harapan besar meminta bantuan kepada bapak presiden Prabowo Subianto, menteri-menteri, Gubernur YSK minta tolong bisa pulangkan kaka saya ke Manado,” tegas Olivia.

​Kasus yang menimpa Meilany kembali menjadi alarm keras bagi perlindungan pekerja migran Indonesia. Meilany diketahui berangkat ke Timur Tengah pada Januari 2025 melalui agen penyalur bernama Jimmy Langkay. Kini, publik menanti tindakan tegas pemerintah untuk memutus rantai perdagangan orang dan menyelamatkan nyawa anak bangsa di negeri konflik.

Follow WhatsApp Channel www.jaguarinfo.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Apresiasi Dukungan Gubernur Yulius Selvanus, KTNA Sulut Siap Sukseskan Penas ke-17 di Gorontalo
Di Bawah Komando Deasy Sjuul Lumbaa, KTNA Sulut Siap Kirim 1.764 Peserta ke PENAS Petani Nelayan di Gorontalo
Tim SAR Berhasil Evakuasi 3 Pendaki yang Terjebak Cuaca Ekstrem di Gunung Klabat
Dilantik Jusuf Kalla, Recky Langie Optimis Pengurus PMI Sulut Perkuat Misi Kemanusiaan
BREAKING NEWS! Polres Tomohon Serahkan Tiga Tersangka Kasus Penambangan Emas Tanpa Izin ke Kejaksaan
Pertamina Patra Niaga Sulawesi Dorong UMKM Manado Naik Kelas Lewat Pelatihan Digital
Jusuf Kalla Lantik Pengurus PMI Sulawesi Utara, Gubernur Yulius Selvanus Tekankan Gerak Cepat Kemanusiaan
Gagalkan Penyelundupan 1 Ton Sianida dan Barang Ilegal, Kodaeral VIII Selamatkan Potensi Kerugian Negara Miliaran Rupiah
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:33 WITA

Apresiasi Dukungan Gubernur Yulius Selvanus, KTNA Sulut Siap Sukseskan Penas ke-17 di Gorontalo

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:20 WITA

Di Bawah Komando Deasy Sjuul Lumbaa, KTNA Sulut Siap Kirim 1.764 Peserta ke PENAS Petani Nelayan di Gorontalo

Senin, 15 Juni 2026 - 16:01 WITA

Tim SAR Berhasil Evakuasi 3 Pendaki yang Terjebak Cuaca Ekstrem di Gunung Klabat

Senin, 15 Juni 2026 - 15:39 WITA

Dilantik Jusuf Kalla, Recky Langie Optimis Pengurus PMI Sulut Perkuat Misi Kemanusiaan

Senin, 15 Juni 2026 - 12:56 WITA

BREAKING NEWS! Polres Tomohon Serahkan Tiga Tersangka Kasus Penambangan Emas Tanpa Izin ke Kejaksaan

Berita Terbaru